author

Tut Wuri Handayani

Kami rindu kembali ke sekolah

#1tahun belajardirumah

       

Kami rindu kembali ke sekolah

Belajar di rumah sudah bermula sejak Maret 2020, dan ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Melalui jaringan internet dan televisi program belajar mengajar ini berjalan. Namun kondisi di lapangan berbeda, jaringan internet ternyata belum bisa dinikmati oleh semua warga. Apalagi untuk daerah-daerah seperti, Dusun Watu Seong, Desa Mosingaran, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mulai april 2020 siswa harus berjuang selain sistem pembelajaran yang baru juga pembiasaan dan mencari kemudahan jaringan internet. Salah satu dari mereka adalah Jansen, yang mana harus berjalan kaki sekitar satu kilometer ke daerah yang memiliki sinyal internet. Jansen masih duduk di bangku SMP, dimana gadget/ smartpphone masih menjadi hal langka. Listrik hanya menyala dimalam hari sedang televisi tidak semua orang memiliki.

"Kami rindu pulang sekolah. Kami tidak bisa belajar dari rumah karena tidak ada jaringan internet, televisi, listrik, dan ponsel," kata Jansen. Kata rindu yang mewakili banyak siswa pelajar sekarang. Harapan Jansenpun sama, corona segera pergi.

Tidak hanya Jansen, Ignas sebagai mahasiswapun mengalami hal serupa. Di rumahnya, ponsel, televisi, dan buku, untuk belajar tidak ada.

Belajar mengajar memang bukan sekedar meyampaikan berita atau materi pendidikan. Karena pendidikan juga percontohan sikap, bertatap muka dan menjalin ketersinambungan emosi. Semoga pandemi segera berakhir sehingga semua aktivitas dapat kembali normal. Tak lupa juga pendidikan anak, karena merekalah asset negeri ini.